“Wariskan Mata Air, Jangan Wariskan Air Mata”

(Pengabdian Kepada Masyarakat LPM UMY dengan Mitra Wondergreen)

WonderGreen, dengan dukungan dari Lembaga Pengabdian Masyarakat (LPM) UMY, menyelenggarakan dua kegiatan yang berkenaan dengan pengelolan sampah. Yang pertama adalah kajian buku Islam dan Lingkungan karya M. Quraish Shihab dengan narasaumber Prof. Dr. Muhammad Azhar. Kegiatan ini diselenggarakan pada Jumat, 17 Mei 2024. Rekaman kajian ini dapat disimak di channel youtube Wonderhome Library: https://youtu.be/KZJXYBGj-oE. Dalam kesempatan tersebut, Prof. Azhar menekankan pentingnya kaum Muslim untuk menyadari bahwa agama bukan saja urusan ibadah ritual, tapi juga ibadah sosial dan lingkungan. Menjaga kelestarian lingkungan adalah juga merupakan bagian tak terpisahkan dari ibadah dan pengamalan agama. Ia sampai mengutip pernyataan bijak dalam konteks mulai maraknya krisis air di dunia: “Jangan Wariskan Air Mata, Wariskan Mata Air.” Jika lingkungan rusak, maka generasi yang akan datang akan menanggungnya. Mereka akan menangis. Namun jika generasi sekarang mewariskan lingkungan yang lestari, maka generasi selanjutkan akan bahagian dengan mata air yang menjadi sumber kehidupan mereka.

Pemahaman dan wawasan keagamaan yang berkenaan tersebut melengkapi kegiatan kedua, yang sebelumnya telah dilaksanakan pada Selasa, 9 Maret 2024. Kegiatannya adalah pelatihan pengolahan sampah organik dengan ember tumpuk yang diselenggarakan di Wonderhome Library dengan mendatangkan narasumber dari Bank Sampah Gemah Ripah, Bapak J. Han. Ia menunjukkan bagaimana pengolahan sampah organik kepada masyarakat di Wejing Wetan, Gamping, Sleman, DIY, yang selama ini menjadi nasabah sampah di Wonder Green, sebuah lembaga Tabungan sampah warga di Mejing Wetan. Mohammad Syifa Amin Widigdo, Ph.D. sebagai dosen yang melaksanakan kegiatan pengabdian masyarakat ini juga mendistribusikan ember tumpuk bagi peserta, yang merupakan hibah dari kegiatan pengabdian LPM UMY. Berikut adalah gamabaran pelaksanaan kegiatan tersebut:

Kepada Tubuhku Aku Meminta Maaf Dan Berterima Kasih

Tubuh adalah modal pertama dan utama kita untuk menjadi hidup dan menjalani kehidupan. Tubuh berkolaborasi dengan jiwa menjadikan kita ada. Tubuh memediasi diri kita agar dapat menyadari dinamika yang terjadi di dalam dan berinteraksi dengan segala entitas yang ada di luar.

Partikel terkecil pada tubuh kita adalah sama dengan partikel-partikel di alam semesta. Ada interkoneksi di antara keduanya.

Sayangnya, sampai usia dewasa, tidak sedikit dari kita yang menerjemahkan tubuh sebatas alat atau entitas yang terpisah dari diri kita. “Seonggok daging” katanya, bukan kesatuan utuh yang memvalidasi eksistensi kita di dunia. For many times we take our body for granted, tanpa sepenuhnya memahami nilai dan potensi yang terkandung di dalamnya.

Maka mari kita memberikan pelayanan terbaik pada tubuh kita. All good services begun with observation. Yuk, menjadi lebih sadar akan kekayaan proses tubuh kita dengan merasakan setiap aspek dari keberadaan kita, rasakan nafas kita, detak jantung kita, segala sensasi yang terjadi. Amati setiap perlakuan yang kita berikan pada tubuh, apa yang masuk ke dalam tubuh? Bagaimana posisi tidur kita? Bagaimana kita menyapa tubuh di pagi hari?

Lalu evaluasi, apakah selama ini kita abai dan bahkan secara tidak sadar bersikap destruktif pada tubuh kita sendiri? Dengan membawa kesadaran ini ke dalam kehidupan sehari-hari, kita dapat memperkuat hubungan kita dengan tubuh dan menghargai kontribusinya yang tak ternilai dalam menjalani kehidupan.

Untuk kaki yang mengantarkan kita ke berbagai tempat di dunia, untuk mata yang merekam dan mencipta memori visual di kepala, untuk telinga yang menangkap canda tawa, hingga detak jantung yang memastikan kita hidup dan menjadi alarm alami untuk menyadari kehadiran stress di hidup kita. Ucapkan terima kasih pada semuanya yang sudah bekerjasama menjadikan kita lebih dari sekedar ada.

Ditulis oleh: Dian Wahyu Pratiwi

10 Pembaca Pertama Novel “Jangan Bercerai Bunda” karya Asma Nadia

Yogyakarta, 6 Januari 2024 – Wonderhome Library, platform podcast di YouTube yang dikenal karena konten-kontennya yang mendalam dan inspiratif, berkolaborasi dengan Bentang Pustaka. Kolaborasi ini menghadirkan kesempatan unik bagi 10 pembaca pertama untuk merasakan sensasi menjadi bagian dari proses pembacaan novel sebelum diterbitkan secara massal.

Acara berlangsung secara kondusif di Perpustakaan Wonderhome Library. Novel yang dipilih untuk acara ini adalah “Jangan Bercerai Bunda” karya penulis terkenal Asma Nadia. Acara ini tidak hanya menjadi kesempatan langka bagi pembaca pertama, tetapi juga merupakan sebuah inisiatif untuk memperkenalkan karya-karya sastra Indonesia kepada khalayak lebih luas.

Pembukaan acara secara langsung oleh Nana Yuliana, perwakilan dari Bentang Pustaka, yang menyampaikan, “Ibu-ibu atau mbak-mbak disini beruntung sekali menjadi 10 pembaca pertama, karena buku ini baru akan terbit dipertengahan bulan ini” ujarnya dengan penuh semangat.

Proses pembacaan novel bersama ini menjadi momen bersejarah bagi 10 pembaca yang beruntung merasakan cerita yang belum pernah terdengar sebelumnya dari Asma Nadia. Dalam sesi ini, mereka dapat berdiskusi, mengeksplorasi cerita yang menggugah, membangkitkan emosi, dan merangsang pemikiran.

“Anak tidak boleh kehilangan figur seorang ayah dan ibu yang baik sampai kapanpun” ungkap Siti Melani salah satu peserta dari Wonderhome Library, menyoroti makna mendalam yang terkandung dalam novel tersebut.

Untuk melihat suasana acara yang telah berlangsung, kunjungi tautan berikut di kanal YouTube Wonderhome Library: https://youtu.be/ZkFnUofYYsc?si=_u5jjGFUwf2FBkNt.

Ditulis oleh: Dian Wahyu Pratiwi

Menulis Sebagai Jalan Hidup

Pada tanggal 11 Desember lalu, Podcast di kanal YouTube “Wonderhome Library” menghadirkan pembahasan menarik mengenai peran menulis dalam kehidupan, dengan tema “Menulis Sebagai Jalan Hidup: Aku Menulis Maka Aku Ada”. Acara ini dipandu oleh Host Nana Yuliana dari Padepokan Asa, yang menyajikan diskusi inspiratif bersama dua narasumber dari Komunitas Kutub.

Narasumber pertama adalah Adi Hidayat, seorang Lurah Komunitas Kutub Yogyakarta yang telah berdedikasi dalam komunitas. Adi berbagi wawasan tentang bagaimana menulis dapat menjadi sebuah jalan hidup yang bermakna bagi individu dan komunitas.

Bergabung juga sebagai narasumber adalah M. Rifal Ais Annafis, pengampu Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta (LSKY). Ais mengajak pendengar untuk merenungkan kisahnya selama dikomunitas bagaimana “Aku bisa hidup dengan tulisan”, serta bagaimana menulis dapat menjadi cerminan dari eksistensi manusia dalam dunia ini.

Dalam diskusi yang penuh inspirasi ini, kedua narasumber menggarisbawahi pentingnya menulis sebagai sarana untuk mengungkapkan ide, emosi, dan pengalaman hidup. Mereka juga berbagi pengalaman bagaimana santri Komunitas Kutub dihadapkan pada kebutuhan sehari-hari yang menuntut kreativitas. Mereka belajar menulis sebagai salah satu cara untuk mencari nafkah. Dalam upaya ini, mereka menulis karya sastra untuk diterbitkan. Untuk mendapatkan cerita selengkapnya, silahkan simak diskusi lengkapnya di tautan berikut: https://youtu.be/ws5ift_Xq9k?si=jk2z5a2jcBQ8ZCTW.  dian_pratiwi

Berpetualang ke Amerika, Bangun Literasi di Yogyakarta || Duet Padepokan Asa dan Wonderhome Library

Yogyakarta, 24 Oktober 2023 – Sebuah petualangan inspiratif merambah hingga ke Amerika, dan kembali membawa semangat untuk membangun literasi di Yogyakarta. Ini adalah kisah dari Padepokan Asa dan Wonderhome Library, yang kini berkolaborasi dalam sebuah podcast yang diunggah di YouTube oleh Wonderhome Library.

Dalam podcast yang diadakan oleh Padepokan Asa dan Wonderhome Library, dengan Joanna Zettira dari Yayasan Padepokan Asa sebagai host, pembicara utama adalah Sapto Agggoro dari Padepokan Asa dan Syifa Amin dari Wonderhome Library. Keduanya berbagi pengalaman petualangan mereka di Amerika serta usaha mereka dalam membangun literasi di Yogyakarta.

Podcast ini diselenggarakan sebagai bagian dari rangkaian program memperingati ulang tahun ke-8 Yayasan Padepokan Asa. Selama delapan tahun, Padepokan Asa telah menjadi pelopor dalam menyebarkan harapan bagi individu dan komunitas. Melalui pengalaman dan jaringan di dunia jurnalistik, pers, dan media konvensional maupun digital yang dimiliki oleh Sapto Agggoro, pendiri Padepokan Asa, lembaga ini telah menjadi tempat belajar bagi banyak orang dalam berbagai bidang.

Di sisi lain, Wonderhome Library yang dipimpin oleh Syifa Amin, menjelaskan bagaimana perpustakaan ini terinspirasi oleh perpustakaan di Amerika yang tidak hanya menjadi tempat penyimpanan buku, tetapi juga menjadi pusat aktivitas yang melibatkan banyak orang dalam proses pembelajaran dan pertukaran pengetahuan.

Kolaborasi antara Padepokan Asa dan Wonderhome Library menjadi bagian penting dalam upaya meningkatkan literasi anak negeri. Keduanya saling belajar dan berbagi, menciptakan suasana yang memicu semangat pembelajaran dan kolaborasi yang produktif. Semoga kolaborasi yang inspiratif ini dapat terus berlanjut dan memberikan kontribusi yang besar dalam peningkatan literasi di Indonesia, khususnya di Yogyakarta. Simak selengkapnya disini https://www.youtube.com/watch?v=6m4mUjhstlE.

Ditulis oleh: Dian Wahyu Pratiwi

Menyatu Dalam Makna Volunteerisme

Yogyakarta, 24 Oktober 2023 – Suatu kolaborasi yang menarik dan inspiratif di podcast Wonderhome Library pada hari ini. Nana Yuliana dari Yayasan Padepokan Asa bergabung dengan Topan dari American Corner UMY untuk membahas tentang dunia volunteering yang tak hanya menyenangkan, tetapi juga sangat bermakna.

Dalam obrolan yang hangat dan menginspirasi, Nana dan Topan berbagi pengalaman pribadi mereka tentang bagaimana beraktivitas sebagai relawan telah membentuk pemahaman mereka akan pentingnya memberi dan melayani sesama. Mereka menyoroti bagaimana jiwa dan aktivitas kerelawanan memiliki dampak yang tak ternilai (priceless) dalam membentuk karakter dan membangun pondasi mental yang kuat untuk kesuksesan di masa depan.

“Menjadi relawan di komunitas membuat mereka ada rasa sense of belonging,” ungkap Nana. “Relawan bisa kompak, bisa bekerjasama dengan baik, karena mereka dalam dirinyapun udah punya tujuan atau visi yang sama dengan organisasi atau komunitas itu.”

Topan menambahkan, “Volunteer itu berharga, karena kita volunteer mengorbankan waktu dan segala macamnya untuk hal yang emang kita sukai dan kita juga minati.”

Acara ini diakhiri dengan pesan inspiratif untuk para pendengar, mengajak mereka untuk mempertimbangkan untuk terlibat dalam kegiatan relawan di komunitas. Pesan tersebut menegaskan bahwa meskipun menjadi relawan tidak ada bayaran finansial, kontribusi sebagai relawan memiliki nilai yang tak ternilai. Menjadi seorang relawan hanya memerlukan rasa ingin tahu dan kesediaan untuk berbuat kebaikan.

Keseluruhan obrolan inspiratif ini dapat disimak secara lengkap di podcast Wonderhome Library. Jangan lewatkan kesempatan untuk menemukan makna volunteerisme! https://www.youtube.com/watch?v=LCk8NiAA9sM. dian_pratiwi

Dulu, Semua Orang Tampak Salah: Perjalanan Bisnis dan Pergulatan Batin Aktivis Dakwah | dr. Ferihana

Pada tanggal 22 Oktober 2023, di channel YouTube Wonderhome Library, sebuah podcast menarik menemani para penikmat konten inspiratif. Dalam podcast tersebut, tamu spesial yang menginspirasi untuk terus belajar, meraih kesuksesan bisnis, dan berperan aktif dalam aktivitas dakwah, yaitu dr. Ferihana, M.S.I, hadir memberikan wawasan yang menggetarkan hati.

Dengan dipandu oleh Host M. Syifa Amin dan Siti Melani, podcast tersebut menyoroti perjalanan hidup dr. Ferihana yang penuh warna dan penuh tantangan. Kisahnya sebagai individu, pengusaha, serta aktivis sosial dan dakwah telah menghadapi berbagai ujian yang menguji kekuatan dan keteguhannya.

Dalam perbincangan tersebut, dr. Ferihana mengungkapkan bagaimana dirinya sering kali menjadi sasaran kritik dan hujatan dari berbagai pihak. Mulai dari komentar pedas terkait penggunaan cadarnya, hingga kontroversi yang muncul akibat perkataan dan pendiriannya. Namun, di tengah badai itu, ia tidak pernah menyerah. Justru, setiap ujian itu menjadi batu loncatan bagi dr. Ferihana untuk semakin tangguh dan mengejar impian serta cita-citanya.

Perjalanan hidupnya yang penuh warna dan perjuangan ini, menjadi inspirasi bagi banyak orang yang mendengarkan. Melalui podcast tersebut, dr. Ferihana membagikan pengalaman berharganya, serta pesan-pesan motivasi yang menggugah hati. Cerita lengkapnya mengenai bagaimana ia mengatasi rintangan dan membangun karier bisnis serta aktivitas dakwahnya dapat disimak secara menyeluruh di link berikut https://www.youtube.com/watch?v=cbODuw9akOI.

Bagi para penikmat konten inspiratif, podcast ini menjadi salah satu sumber motivasi dan inspirasi untuk tidak pernah menyerah dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan. Cerita dr. Ferihana mengingatkan kita bahwa di balik setiap tantangan, ada peluang untuk tumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang lebih kuat dan berarti.

Ditulis oleh: Dian Wahyu Pratiwi

IMAM GHAZALI’S INFLUENCE IN REALIZING AN ETHICAL AND MORAL SOCIETY ERA SOCIETY 5.0

Reyga Pramudita

Departement of International Government Affairs and Administration, Faculty of Social and Political Science, Muhammadiyah University of Yogyakarta, Indonesia. Email: reygaapramuditaa@gmail.com

Society 5.0 is the use of modern technology, but still relies on humans as its main component (Latifah & Ngalimun, 2023). Society 5.0 emphasizes the importance of connectedness which also affects social, ethical and moral aspects between fellow humans. In the era of a highly connected and technology-driven Society 5.0, there is a risk that spiritual and religious values could be marginalized or forgotten. Although civilization has become more advanced as it is now which has reached the point of the Era of Society 5.0, humans must not forget religion and only focus on success or material prosperity because this is not the goal of religion. Material success and prosperity are not Islam’s final goals of human life (Denny, 2015). It is necessary to increase understanding of religion in proportion to technological advances, as in Islam which also contributes greatly to the progress of civilization by limiting and giving a firm line in determining what is good and what is not.

Talking about aspects of religiosity or spirituality, the role of Islam is considered very vital in the formation of these aspects in the era of society 5.0 (Rafsanjani & Irama, 2022). Not finished adapting to the industrial revolution 4.0 introduced by European countries, now the world community is again introduced by Japan with the idea of Society 5.0 (Putri, 2022). This is where another role of Islam that is no less important, through ideal Islamic education, a generation that is capable of adapting to technology can be created because Islamic education is not only a regulator of character, ethics, or morals but also as a fasalitator of the new generation to adapt to technology. Islamic education was the most formative element in Islamic civilization, the important role of ethics in this civilization becomes obvious (Hourani, 1985).The new generation of Islam must not be allowed to continue to be carried away by the progress of civilization which sometimes has a negative impact, special attention is needed to overcome this problem and prevent the new generation of Islam from reaching the point of living freely without maintaining Islamic values in the Era of Society 5.0.

Awareness to maintain Islamic values in the Era of Society 5.0 is very vital because it ensures the continuity and sustainability of the teachings of Islam itself in the midst of situations that must face intervention in the progress of civilization. The urgency of maintaining Islamic values can also be seen from the fact that Islam provides comprehensive life guidelines for Muslims in all aspects of life. There are many expert understandings there are Islamic life guidelines, one example can be seen from the Islamic life guidelines of Muhammadiyah citizens which interpret life guidelines as a set of Islamic values and norms derived from the Quran and Sunnah to be a pattern for the behavior of Muhammadiyah citizens in living their daily lives so that Islamic personalities are reflected towards the realization of the main society founded by Allah SWT (Muhammadiyah,  2000). Maintaining Islamic values in the Era of Society 5.0 can also be done studying prominent Islamic scholars who are able to adapt to the progress of civilization in their respective eras, such as studying how they respond and act or how Islamic scholars maintain Islamic values in their time.

Speaking of Islamic scholars, they are Muslim scholars from various scholarly focuses during Islam’s Golden Era that existed in the 7th century or 650 to 1250. Thanks to the role of scholars in the heyday of Islam, Islamic civilization is superior to Western civilization, which at that time was still immersed in the dark ages or known as the Dark Ages (Ningsih, 2023). Through the example and example of scholars, Muslim scholars inspire and help Muslims to understand and practice the teachings of Islam more deeply. Muslim scholars such as Al-Ghazali, Ibn Sina, Ibn Rushid, and many others also helped build a positive image of Islam in the eyes of the world and promote peace, tolerance, and kindness in society at large.

Imam al-Ghazali was a Muslim thinker who lived during the Abbasid Caliphate. His full name is Abu Hamid Muhammad ibn Muhammad ibn Taus Ahmad al-Tusi al-Shafi’I (Asiah, 2020). Imam Ghazali is one of the most important figures in the intellectual and spiritual history of Islam through his works such as “Tahafut al-Falasifah” (The Incoherence of the Philosophers) and “Ihya Ulum al-Din” (The Revival of the Religious Sciences). He was also a figure who lived in a time full of intellectual debate and controversy. The above information is the reason why the writer chose Imam Ghazali as a topic of study because of the great understanding of Imam Ghazali’s thought shaped intellectual development in the Islamic tradition and his insights into the intellectual challenges of his time and the way he responded to them. The purpose of this study is to provide an understanding of: 1.How important Imam Ghazali is to Islam and 2. Becoming better in the Era of Society 5.0 after learning from the figure, behavior, deeds, ideas, and works of Imam Ghazali.

Discussion

  1. Imam Ghazali and the Factors That Made Him a Prominent Muslim Figure

Abu Hamid Muhammad ibn Muhammad ibn Taus Ahmad al-Tusi al-Shafi’I or commonly known as Imam al Ghazali was born in 450 Hijri or 1058 AD in the Khurasan Region of Iran, Thus, Ghazlah Thabran Village. Imam Ghazali did have a natural interest in science and was always devout religious despite growing up in a simple environment. His father named Muhammad had an interest in traveling to gain knowledge in his time. The activity of selling wool spun by Imam Ghazali is a support for his family life so that the call Al Ghazali refers to the work of weaving fur cloth, namely ghazzal which means wool spinner in Arabic.

Imam al-Ghazali apart from being a scholar who is an expert in the field of religion, his views on education can be said to be very complete, not only emphasizing Islamic religious values, but also professionals in scientific matters (Putra, 2018). He was an outstanding scholar with extensive knowledge and was respected as a formidable thinker of Islamic philosophy and world history. In the field of jurisprudence he followed Shafi’i thought while in Kalam he followed the Ash’ari school or Ahlu Sunnah Wal Jamaah. His courage and persistence were so remarkable that he managed to complete his education in a short time beating the previous generation. At the age of 34 he was appointed professor at the Nizamiyyah University in Baghdad. This appointment was the highest honor ever given to someone at such a young age, and a remarkable honor in the Islamic world at that time.

Factors that made Imam Ghazali a prominent Muslim figure:

  1. His Vast Knowledge

Imam al-Ghazali is known to have a very broad knowledge in various fields of science, including theology, philosophy, Islamic law, ethics, and Sufism. His expertise in various disciplines made him a recognized authority in Islamic thought.

  • His Influential Works

Imam al-Ghazali wrote many works that had a great influence on Islamic thought and scholarship. His famous works, such as “Ihya Ulumuddin” (Revival of the Religious Sciences) and “Al-Munqidh min ad-Dalal” (Deliverance from Error), have become important references for Islamic scholars and thinkers.

  • Influence in Sufism

One of Imam al-Ghazali’s greatest contributions lies in the field of Sufism. He integrated Sufism with a broader understanding of Islam, providing practical guidance for spiritual practitioners. His famous work, “Ihya Ulumuddin” deals with muamalah. Mu’amalah in question is the science of charity deeds that “besides must be known, they are also required to be practiced”, both outwardly and mentally (Safitri &; Khairuddin, 2022).

  • Imam Ghazali’s Interaction with the Qur’an, the Sunnah of the Prophet, and the Muslim Community

Imam al-Ghazali studied various Islamic disciplines, including theology (Kalam), Islamic law (Fiqh), philosophy and Sufism. He incorporated this knowledge in his works that strengthened the understanding of Islamic teachings and made a significant contribution to renewing and preserving the Islamic scientific tradition. In his time, Imam Ghazali participated in the reform movement of Islamic thought. He tried to restore the correct framework of understanding of Islam and update religious practices to meet the needs of the people of his time. The reform of thought undertaken by Imam al-Ghazali can be seen especially in his famous work Ihya Ulumuddin (Revival of Religious Studies). Some of Imam Ghazali’s interactions include:

As an Islamic scholar and scholar, Imam Ghazali has a very close interaction with the Quran, it also pays great attention to the Quran as the main source of Islamic teachings such as writing tafsir. Tafsir is a compromise between the inner meaning and the physicality of the Qur’an through the source of sufi interpretation, because the interpretation of zahir is not the final or final purpose of the interpretation of the Qur’an (Elmi, 2022).

Imam al-Ghazali had a strong interaction with the Sunnah of Prophet Muhammad (PBUH), which is the source of law and guidance in Islam. He used hadith as one of the main sources in establishing Islamic law or prioritized valid hadiths and had a strong sanad in making legal decisions and establishing the right course of action. The study of morality in Islam based on the Quran and the Sunnah is impossible to exclude an international caliber thinker, namely al-Ghazali (Suryadarma &; Haq, 2015).

Al Ghazali succeeded in establishing Sufism as a spiritual aspect of Islamic doctrine, where it was widely accepted by the Muslim community (Fasya, 2022). His famous works, such as “Ihya Ulumuddin” (Revival of the Religious Sciences) became a source of inspiration and guidance for the Muslim community in promoting personal piety and drawing closer to Allah.

  • Imam Ghazali’s Nature, Behavior, Ideas, and Works that Contribute to the Progress of the Ummah, Nation, or Humanity

Through his nature, behavior, ideas, and works, Imam Ghazali contributes to the progress of the people, nation, and humanity by inspiring, appreciating the value of justice, renewal of thought, and giving birth to great works that have a positive impact on the progress of the ummah, nation, or humanity.

Imam Ghazali’s exemplary nature in religious practice, morality, and spirituality refers to his success in overcoming doubts and challenges in his personal and academic life inspiring others to develop a closer relationship with God, increase personal piety, and commit to good practices.

Imam Ghazali’s behavior of justice and integrity is an example for society to uphold the values of justice and honesty as in  Ayu’s research (2020) which explains that power depends on the military, and the military depends on economic supply, supplies depend on prosperity, and prosperity depends on justice.

Imam Ghazali’s idea of renewal of thought contributed greatly to the renewal of Islamic thought in his time by introducing new ideas and sharpening arguments in the fields of theology, philosophy, and Sufism. His famous work, “Tahafut al-Falasifah” (The Incoherence of the Philosophers), criticized Greek philosophical thought that was not in harmony with Islamic teachings, and pioneered new thinking that was more in line with Islamic creeds.

Imam Ghazali’s works had a wide influence such as in “Ihya Ulumuddin” (Revival of the Religious Sciences) which renewed the understanding of religion and addressed various aspects of life, including spirituality, morality, and ethics. His works provide practical guidance for Muslims in promoting personal piety and practicing religion properly.

  • Imam Ghazali’s Behavior, Deeds, Thoughts and Works that Inspired the Writer

Imam Ghazali’s profound and innovative thinking brought about significant changes in religious understanding and religious practice. His contribution in rediscovering the essential values of Islam and integrating them with new thinking inspired the writer to explore and develop Islamic thought that is more relevant to the writer’s current era, namely the Era of Society 5.0. This is why the writer was inspired and chose Imam Ghazali as the topic of study because according to the writer personally, Imam Ghazali’s scholarly figure is the writer’s “sudden idol”. Starting from teaching and learning activities on campus that required the writer to explore Imam Ghazali, the writer became more curious and studied Imam Ghazali more deeply. His deep, innovative, and “not mainstream” thinking inspired the writer to learn from Imam Ghazali and foster a desire in the writer’s mind to be able to apply Imam Ghazali’s way of thinking that can adapt to the times.

Conclusion

            Imam Ghazali lived in a time of intellectual debate and controversy, but thanks to his innovative thinking, he was able to rediscover the essential values of Islam and integrate them with the new thinking of his era. Integrating the essential values of Islam with new thinking is the answer to the current problem where the progress of civilization is developing rapidly until it reaches the Era of Society 5.0. It takes a thought like Imam Ghazali who can adapt to the development of civilization, is not easily shaken, and faithfully maintains the essential values of Islam to be taught or socialized to the new generation of Islam.

            The discussion in this study can be used as a reference for recommendations to learn the inspiring story of Imam Ghazali so that he can process to be even better, not only for the writer but also for the nation, the state of Indonesia, and humanity. This study is also interpreted as a criticism of society in the 5.0 Era which began to forget spiritual and religious values. The writer’s hope is that people in the 5.0 Era who are starting to forget the value of spiritual and religious values can reflect more on themselves to realize the current situation and improve themselves, one way is to learn the inspiring story of Imam Ghazali.

Reference

Asiah, H. N. (2020). MASLAHAH MENURUT KONSEP IMAM AL GHAZALI. DIKTUM: Jurnal Syariah Dan Hukum, 18.

Ayu, D. (2020). Pemikiran Al Ghazali tentang Penerapan Sistem Ekonomi Islam di Indonesia. Jurnal Hukum Ekonomi Islam (JHEI), 4(1), 111–128.

Denny, F. M. (2015). An introduction to Islam, fourth edition. In An Introduction to Islam, Fourth Edition. https://doi.org/10.4324/9781315663821

Elmi, A. R. (2022). EPISTEMOLOGI TAFSIR ESOTERIK AL-GAZALI DALAM KITAB IHYA ’ULUM AL-DIN. 9, 453–473.

Fasya, A. A. (2022). Konsep Tasawuf Menurut Imam Al-Ghazali. JOUSIP: Journal of Sufism and Psychotherapy, 2(2), 153–166. https://doi.org/10.28918/jousip.v2i2.6723

Hourani, G. F. (1985). Reason and Tradition in Islamic Ethics. In Reason and Tradition in Islamic Ethics. https://doi.org/10.1017/cbo9780511570780

Latifah, & Ngalimun. (2023). Pemulihan pendidikan pasca pandemi melalui transformasi digital dengan pendekatan manajemen pendidikan islam di era. 5(1), 41–50.

Muhammadiyah, P. (2000). Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah. Pimpinan Pusat Muhamamdiyah, 1–25.

Ningsih, W. L. (2023). Tokoh-tokoh Islam Terkenal dari Masa Kejayaan Islam. Kompas.Com. https://www.kompas.com/stori/read/2023/05/04/230000079/tokoh-tokoh-islam-terkenal-dari-masa-kejayaan-islam.

Putra, M. (2018). EFEKTIVITAS MEDIA SOSIAL INSTAGRAM SEBAGAI MEDIA KOMUNIKASI PEMASARAN. Bitkom Research, 63(2), 1–3. http://forschungsunion.de/pdf/industrie_4_0_umsetzungsempfehlungen.pdfhttps://www.dfki.de/fileadmin/user_upload/import/9744_171012-KI-Gipfelpapier-online.pdfhttps://www.bitkom.org/ sites/default/files/ pdf/Presse/Anhaenge-an-PIs/ 2018/180607 -Bitkom

Putri, A. R. (2022). Tantangan Pendidikan Islam di Era Society 5.0. Yoursay.Id. https://yoursay.suara.com/kolom/2022/12/08/173706/tantangan-pendidikan-islam-di-era-society-50

Rafsanjani, A. Z., & Irama, Y. (2022). ISLAM DAN SOCIETY 5.0: PEMBACAAN ULANG TEOLOGI ISLAM PERSPEKTIF MOHAMMED ARKOUN DI ERA DIGITAL. Dialogis Ilmu Ushuluddin, 12.

Safitri, I., & Khairuddin. (2022). ETIKA GURU PAI DALAM PROSES PEMBELAJARAN MENURUT KITAB IHYA’ULUMUDDIN KARYA IMAM AL-GHAZALI. 1(2), 454–468.

Suryadarma, Y., & Haq, A. H. (2015). Pendidikan Akhlak Menurut Imam Al-Ghazali. At-Ta’dib, 10(2), 362–381. https://ejournal.unida.gontor.ac.id/index.php/tadib/article/view/460

Inspirasi Memerangi Kejahiliyahan Literasi

Tanggal 22 Juli lalu Bincang Komunitas terselenggara atas kerja sama Wonderhome Library dengan  @padepokanasawedomartani8144 . Pada kesempatan tersebut, kami menghadirkan Mbak Diah Fitria Widhiningsih dari  @bercakpustaka4623 . Bermula dari Mbak Fitri beserta keluarga dan koleganya melihat banyak siswa yang tidak meneruskan pendidikan dan malah bermain di warung saat jam sekolah, mereka tergerak untuk membentuk komunitas belajar yang kemudian diberi nama Bercak Pustaka. Dimulai dari English Club, Bercak Pustaka kemudian bertransformasi menjadi Taman Bacaan Masyarakat (TBM) yang bergerak di bidang pendidikan, pertanian, dan seni-budaya.

Berbekal pengalaman pribadinya di Surabaya yang berhasil mendobrak mental block sebagai pribadi yang pemalu, teladan orang tua dan kakeknya yang peduli pada lingkungan sekitar, dan keresahannya pada rendahnya kesadaran pendidikan masyarakat, ia menggerakkan Bercak Pustaka menjadi pemberantas kejahiliyahan literasi di lingkungannya. Kegiatan dan programnya menarik, dari pendampingan belajar anak usia sekolah, pembelajaran Bahasa Inggris, penumbuhan critical thinking, pengolahan limbah dan pertanian, hingga pelatihan seni musik dan tari. Bagaimana cerita selengkapnya? Silahkan simak hingga tuntas di link berikut ini: https://www.youtube.com/watch?v=cPO6v8xMrME

Forum TBM Sleman: Merawat Denyut Literasi Masyarakat

Forum TBM Sleman di Wonderhome Library

Senin (24/07/2023) lalu, pengelola Taman Bacaan Masyarakat (TBM) di wilayah Slema, Yogyakarta, berkumpul dan membincangkan agenda-agenda literasi masyarakat di Wonderhome Library. Pertemuannya berlangsung hangat, gayeng, dan penuh semangat kebersamaan dan kekeluargaan. Beberapa senior pegiat literasi juga hadir, seperti Pak Sidik Pratomo dari Pustaka Keliling Adil, Pak Muhsin Kalida dan istri dari Cakruk Pintar, Pak Nuradi Indrawijaya serta Heni Wardaturrohmah dari Mata Aksara, seorang peserta pertukaran pelajar (Inayah dari San Antonio, Texas, USA), dan masih banyak lagi.

Mas Imam Syaiful Wicaksono, sebagai Ketua TBM Sleman, memaparkan perkembangan terkini terkait dengan administrasi, program-program, dan informasi terkini dari Forum TBM Sleman. Di antaranya adalah pengadaan papan nama yang terafiliasi dengan Forum TBM Sleman. Dalam hal ini, masing-masing TBM diharapkan dapat mengirimkan logo TBM-nya ke Mas Muhammad Sidqi Irsyadi (Irsyad) melalui email: ftbmsleman@gmail.com. Selain itu, Forum TBM Sleman juga mendapatkan tawaran kerja sama dan kolaborasi dengan beberapa pihak. Kampung Emas di Seyegan, Sleman, yang dikelola oleh dosen UNY (Universitas Negeri Yogyakarta) menawarkan untuk kerja sama di bidang peningkatan literasi masyarakat di kampung tersebut. Pemuda Peduli yang pusatnya berada di Bandung, melalui cabangnya di Yogyakarta, mengajak Forum TBM Sleman untuk berpartisipasi dalam kegiatan “Literasi Asik, Kreasi Menarik” di Sekolah Marjinal, Yogyakarta.

Mas Imam juga melaporkan bahwa belum semua TBM terdata di Balai Bahasa Yogyakarta (BBY). Pendataan itu penting sebab banyak program pembinaan literasi yang diselenggarakan BBY melibatkan kerja sama dengan TBM. Bagi yang belum terdata, diharapkan dapat mengisi datanya agar terekam dalam katalog BBY. Informasi yang tak kalah menarik adalah bahwa uang kas Forum TBM dapat dipakai untuk mendukung kegiatan literasi di TBM. Alokasinya untuk setiap kegiatan TBM adalah Rp 300.000 (dengan syarat dan ketentuan berlaku).

Mbak Dhea

Dalam pertemuan Forum TBM Sleman ini, selain pelaporan perkembangan terkini literasi di wilayah Sleman, rutinitas yang juga dinantikan adalah arisan buku. Masing-masing TBM membawa 2 (dua) buah buku untuk dikumpulkan. Setelah mengacak nama-bama TBM yang hadir, satu nama TBM akan diambil dan ditentukan sebagai pemenangnya. Pada pertemuan kali ini, yang memenangkan arisan adalah TBM Pena yang diwakili oleh Mbak Dea.

Di pertemuan-pertemuan selanjutnya, mudah-mudahan juga ada waktu untuk berbagi tentang bagaimana cara mengembangkan kegiatan dan program literasi di masing-masing TBM dengan dinamikanya masing-masing. Siapa tahu, sesi berbagi seperti itu dapat saling memberi semangat antara satu dan yang lain dalam merawat denyut dan nafas literasi masyarakat.(msaw).