Fiqh al-Bi’ah dan Pengelolaan Sampah di WonderGreen

Sampah yang tidak dikelola dengan baik telah menimbulkan bencana dan dampak lingkungan yang merenggut banyak nyawa. Agar bencana dan dampak negatif dari sampah tidak terulang dan dapat diminimalkan, pengelolaan sampah yang berbasis nilai-nilai agama dengan melibatkan partisipasi masyarakat perlu dilakukan.

Sampah yang terbuang sembarangan adalah cermin dari jiwa yang abai pada tatanan. Dalam kelola rapi, tersimpan harapan bagi lingkungan yang lestari. Bukan semata soal buang saja, namun tentang tata, pilah, dan tanggung jawab. Seperti petani menata ladangnya, kitapun mesti menata sisa yang kita hasilkan. Karena bumi ini bukan warisan, melainkan titipan yang harus kita jaga.

Dalam mewujudkan masyarakat yang dapat mengelola sampahnya secara mandiri Wonderhome menghadirkan “Wonder Green” untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Wonder Green merupakan nama “Bank Sampah” yang didirikan oleh Wonderhome untuk membantu masyarakat dalam pengelolaan sampah. Di Wonder Green ini masyarakat dapat menukarkan sampah yang telah dipilah menjadi uang/Tabungan sampah. Tabungan sampah ini dapat diambil oleh masyarakat ketika masyarakat merasa uangnya sudah cukup banyak/dalam jangka waktu tertentu.

Pada hari jumat, 21 maret 2025 wonderhome mengadakan seminar dan pengajian yang bertajuk “Fiqh Al-Bi’ah, Edukasi Masyarakat dalam Mengelola Sampah Organik dan Non-Organik”. Di seminar dan pengajian yang diadakan ini wonderhome menekankan pentingnya mengelola sampah secara mandiri sebvagai bentuk menjaga lingkungan dan melestarikan bumi pertiwi dari hal terkecil. Dalam acara ini wonderhome juga menghadirkan tebus murah sembako dan juga bazar pre-loved yang murah meriah bagi masyarakat serta peserta yang hadir.

Diadakannya acara ini yaitu bertujuan untuk membangkitkan Kembali WonderGreen serta mengedukasi masyarakat sekitar tentang pemilahan sampah yang dapat ditukarkan di WonderGreen. Upaya ini dilakukan juga untuk lebih meningkatkan pendapatan masyarakat melalui passive income dari menukarkan sampah yang sudah dipilahnya ke WonderGreen. Dengan begitu masyarakat akan lebih memilih untuk memilah sampahnya untuk dijadikan Tabungan daripada melakukan kebiasaan lama yaitu langsung membuang ke tpa tanpa memilah terlebih dahulu. Lintang.

Inisiatif Literasi UMY di Kuala Lumpur: Membangun Pojok Baca

Sanggar Bimbingan Muhammadiyah (SBM) Kuala Lumpur, Malaysia menyambut hangat tim dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) dan Wonderhome Library  pada 23-25 April 2025. Tim dari Yogyakarta ini terdiri dari Mohammad Syifa Amin Widigdo sebagai dosen UMY yang melaksanakan pengabdian masyarakat dan Siti Melani serta Herny Ameliana dari Wonderhome Library sebagai narasumber Reading Aloud dan Robotic Experiment.

Di tahun sebelumnya, tepatnya 25 November 2024, Syifa Amin melakukan observasi tentang kegiatan di SBM Kampung Baru,  Kuala Lumpur. Ia menemukan bahwa salah satu kebutuhan dasar SBM yang belum terpenuhi adalah ketersediaan buku bacaan yang mudah diakses oleh anak-anak. Satu rak buku yang ada dipenuhi dengan buku-buku bacaan untuk usia dewasa karena materinya yang berat. Buku untuk anak-anak tidak tersedia dengan memadai. 

Ketika anak-anak Kelas 1-6 SD belajar, kemampuannya beragam. Beberapa bisa membaca dan berhitung dengan baik tapi lebih banyak lagi yang belum terampil membaca, menulis, dan berhitung. Ketika mereka disatukan dalam satu kelas besar, mereka yang lamban dalam belajar makin tertinggal. Jika tidak ada lingkungan keluarga dan sekolah yang mendukung, mereka makin terpuruk dan tertbelakang dalam belajar.

Anak-Anak Sanggar Bimbingan Muhammadiyah Membaca di Pojok Baca

Salah satu hal.yang dapat mendukung iklim belajar adalah penyediaan Pojok Baca dengan rangkaian aktivitas literasi yang mengirinya. Oleh sebab itu, Syifa Amin sebagai dosen pengabdi dari UMY memfokuskan kegiatannya pada tiga aktivitas utama: pembuatan Pojok Baca, Reading Aloud, dan eksperimen sains melalui kegiatan robotic.

Pada hari pertama, 23 April 2025, tim dari Yogyakarta membawa 56 judul buku dan 10 rangkaian robot dalam satu koper ke SBM Kampung Baru di pagi hari. Setelah mempwrkenalkan tim dari UMY dan Wonderhome Library ke anak-anak pelajar di SBM, siang harinya, mereka membeli 4 (empat) rak buku di Syarikat Sun Wee Leong untuk tempat buku di Pojok Baca. Dengan perlengkapan sederhana, Pojok Baca UMY-Wonderhome Library berdiri dengan 4 rak buku, 56 buku, dan 10 rangkaian robot helikopter, mobil remote control, stegosaurus, lift, perahu, vacuum cleaner, kipas angin, dan lampu elektrolit.

Pada hari kedua, 24 April 2025, Bu Siti Melani memulai kegiatan literasi di Pojok Baca dengan ice breaking, Reading Aloud (Baca Nyaring) buku Terbang Tinggi, dan eksperimen membuat roket dari balon, kertas, dan sedotan. Anak-anak antusias mengikutinya. Di malah harinya, tim juga berpartisipasi menjadi volunteer yang mendampingi dan menyimak bacaan al-Qur’an anak-anak di SBM.

Bu Herny atau Bu Agus dan Kegiatan Robotic Anak-Anak SBM

Di hari terakhir, tanggal 25 April 2025, anak-anak tampak mulai mengambil dan membaca buku di Pojok Baca. Bu Herny Ameliana mengajak anak-anaik bermain sains sederhana dengan membuat robot yang terbuat dari triplek tipis, kabel, dinamo, bohlam, baterai AA, hingga baterai tenaga matahari. Mereka bersemangat sekaligus bekerja keras menyusun rangkaian materi robot hingga tersusun sebagaimana pola yang ada di panduan. Hampir semua jadi. Hanya saja, ada yang tidak karena ada alat yang tercecer. Mereka yang menyelesaikan kerja dan karyanya begitu puas dan lega. Mereka takjub melihat karyanya sendiri. Lampunya menyala dengan tenaga air. Baling-balinh helikopternya berputar dengan solar batteray. Kipasnya berputar. Perahu dan mobilnya berjalan dengan baik. Hanya liftnya yang gagal karena ada satu komponen yang hilang. Di akhir kegiatan, anak-anak merayakan proses, kerja keras, kebelumberhasilan, maupun keberhasilannya.

Di akhir kegiatan, Bu Melani berbagi pelajaran penting. Dalam ekaperimen, katanya, ada kegagalan dan keberhasilan. Penemu bola lampu, Thomas Alfa Edison, mengalami kegagalan ribuan kali sebelum kemudian berhasil. Kalau pun rasanya menemui kegagalan dalam menuntut ilmu atau percobaan sains, kita tidak boleh gampang menyerah. Perlu terus berusaha. Menurut Bu Melani,  keberhasilan yang manis akan datang pada waktunya. msaw.

Volunteer Sinau Sore Sebagai Jantung Ketahanan Literasi Masyarakat

Penurunan skor PISA (Programme for International Student Assessment) Indonesia dari tahun 2018 ke tahun 2022 menempatkan Indonesia di urutan ke 69 dari 80 negara yang dinilai. Hal ini menunjukkan bukan hanya rendahnya literasi anak-anak Indonesia, tapi juga rendahnya mutu pendidikan dan lemahnya kualitas tenaga kerja Indonesia. Peningkatan literasi membaca, matematika, dan sains yang menjadi patokan PISA tidak hanya dapat disandarkan pada pemerintah. Masyarakat juga dapat memberikan andil dan kontribusinya bagi peningkatan kualitas literasi, pendidikan, dan kualitas sumber daya Indonesia.

Wonderhome Library sebagai salah satu pusat belajar masyarakat menyelenggarakan Sinau Sore Bareng untuk mendampingi pembelajaran anak-anak di tingkat Ssekolah Dasar dan Menengah secara gratis. Antusiasme masyarakat untuk mengirimkan anak-anaknya cukup tinggi. Ada sekitar 20-25 anak yang setiap hari belajar di perpustakaan berbasis komunitas dan masyarakat ini. Hanya saja, volunteer yang mendampingi anak-anak belajar mengalami fluktuasi. Ada kalanya banyak, kadang cukup, dan di lain waktu berkurang. Tapi, seringkali kekurangan mengingat jumlah anak yang belajar terus bertambah.

Untuk itu, Wonderhome Library bekerja sama dengan Lembaga Pengabdian Masyarakat (LPM Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) menyelenggarakan kegiatan Workshop dan Rekrutmen Volunteer untuk Program Sinau Sore Bareng.  Acara ini berlangsung pada hari Jum’at, 07 Maret 2025, di Wonderhome Library.

Pada sesi pertama, Mohammad Syifa Amin Widigdo, Ph.D., sebagai dosen UMY yang melakukan pengabdian masyarakat menyampaikan materi terkait kenapa perpustakaan komunitas dan volunteer literasi penting bagi ketahanan literasi masyarakat. Rekaman materi ini dapat dilihat di link berikut: https://youtu.be/W0CL-YyGcGk.

Di bagian kedua, Siti Melani yang merupakan volunteer Sinau Sore Bareng memberi gambaran pembelajaran di SInau Sore Bareng. Pada saat yang sama, ia juga berbagi tips tentang bagaimana melakukan Read Aloud dan aktivitas-aktivitas pembelajaran lain yang membuat proses pendampingan belajar menyenangkan. Pada saat yang sama, aktivis dari Read Aloud Yogyakarta (Ikana Asti) juga berbagi tips dan praktik bagaimana membaca nyaring di hadapan para peserta. Videonya dapat dilihat di link YouTube berikut: https://youtu.be/ZkmGBW-e8HE.

Di sesi tiga, Bu Herny Ameliana berbagi testimoni, suka dan duka, serta strategi untuk dapat konsisten menjalani aktivitas sebagai volunteer literasi di Wonderhome Library. Rekaman testimoni Bu Herny dapat dijumpai di tautan berikut: https://youtu.be/I-FhuNG94s4.

Selain dukungan dari LPM UMY, acara ini berjalan lancar dan sukses juga karena partisipasi mahasiswa dari Program Studi Pendidikan Non-Formal, Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), yang menjalani program magang di Wonderhome Library. Mereka adalah Ridho, Reza, Lintang, dan Bhima. Pengelola Perpustakaan Kelurahan  Ambarketawang, Gamping, juga hadir dengan membawa kader dan volunteer perpustakaan kelurahan ke kegiatan workshop volunteer ini.   Ika dari Pengelola Perpustakaan Kelurahan Ambarketawang, dan para pengelolanya.

PRAKTIK KONSENTRASI MAHASISWA PNF FIPP UNY

Penerjunan Praktik Konsentrasi Pemberdayaan Masyarakat di Wonderhome Library

Pendidikan Nonformal atau disingkat PNF, adalah salah satu Program Studi di Fakultas llmu Pendidikan dan Psikologi Universitas Negeri Yogyakarta yang bergerak di bidang kemasyarakatan . PNF memiliki lima konsentrasi, diantaranya Pemberdayaan Masyarakat, Pemberdayaan Keluarga, Pendidikan dan Pelatihan, Pekerjaan Sosial, dan Wisata Edukasi. Kelima konsentrasi tersebut, akan menjadi bahan ajar wajib yang ditempuh oleh setiap mahasiswa. Kelak mahasiswa akan difokuskan dengan konsentrasinya masing-masing, baik di kuliah teori, praktik dan penilitian (skripsi).

Mahasiswa/i PNF yang sedang menempuh studi di semester 6, diwajibkan untuk mengikuti Program “Praktik Konsentrasi” atau lebih dikenal dengan magang. Pada bulan Februari 2025 telah memasuki perkuliahan semester genap, dimana mahasiswa/i difokuskan ke lokasi magang sesuai dengan konsentrasinya masing-masing. Salah satunya terdapat kelompok dengan konsentrasi Pemberdayaan Masyarakat yang melaksanakan Praktik Konsentrasinya di Wonderhome Library.

Kelompok mahasiswa yang melaksanakan Praktik Konsentrasinya di Wonderhome Library, terdiri dari Moh. Ridho Agusta, Lintang Prabangkoro, Bhima Henar dan Muh. Reza Malik dengan dosen pendamping lapangan yaitu Fitriani Tjiptasari, S.I.P., M.A. Kelompok tersebut telah melaksanakan penerjunan secara resmi pada hari Rabu, 19 Februari 2025. Kelompok tersebut memulai hari pertamanya di hari Senin, 24 Februari 2025. (BL2RBOYZ, 2025).

Workshop dan Praktik Podcast Wonderhome: Kisah Orang Biasa dengan Cerita Luar Biasa

Podcast menjadi medium baru untuk berbagi dan menyerap pengetahuan. Dalam bentuk audio maupun plus visualnya, podcast dapat dimanfaatkan untuk penguatan literasi masyarakat di samping medium cetak seperti buku. Untuk itulah, pada tanggal Ahad, 27 Oktober 2024 kemarin, Wonderhome Library menyelenggarakan Workshop dan Praktik Podcast di Studio Wonderhome Library dari jam 12.00 sampai 17.00.

Acara dimulai dengan pemaparan dari Founder Wonderhome Podcast, Syifa Amin. Ia menjabarkan tentang apa itu podcast, bagaimana cara memulai dan memandu sebuah podcast, peralatan apa saja yang diperlukan untuk podcast, dan platform apa saja yang dapat dijadikan tempat untuk publikasi podcast. Dengan best practice dari Wonderhome Podcast, ia menunjukkan bagaimana pengetahuan tentang podcast tersebut dipakai untuk praktik di Wonderhome sejak masa awalnya di tahun 2020. Ahmad Sahide, sebagai nara sumber pertama di Wonderhome Podcast, berbagi tentang bagaimana pengalamannya menjadi nara sumber dan persiapan apa saja yang ia lakukan sebelum rekaman di studio.

Setelah sesi pengenalan tentang dunia podcast tersebut, sesi berikutnya Puthut EA yang merupakan host di Putcast milik Mojok.Co berbagi pengalamannya tentang bagaimana mengelola podcast. Awalnya, ia hanya didapuk menjadi host podcast hanya sebagai dummy  saja, sambil mencari host baru. Hanya saja, dalam perjalanannya, tidak ditemukan host yang pas selain Mas Puthut yang juga merupakan Kepala Suku Mojok.Co. Akhirnya, peran sebagai host podcat pun terpaksa ia teruskan. Pada saat yang sama, respon dari audien juga positif. Ia pun bertransformasi dari soerang penulis yang sudah berkarya puluhan tahun (25 tahun di tahun 2024 ini), kini ia juga dikenal sebagai seorang pembawa podcast youtube yang berhasil di Yogyakarta.

Membawakan podcast dan telah mewawancarai lebih dari 300 nara sumber memunyai dinamikanya tersendiri. Ia pernah punya nara sumber  yang seperti kulkas, dingin, dan pelit bicara. Hal seperti ini cukup menantang dan membuatanya harus mencari cara agar obrolan tetap dapat berlangsung dengan baik. Ia juga pernah berbincang dengan nara sumber yang bicaranya ngalor-ngidul. Ketika diarahkan dengan pertanyaan, ia tetap berbicara di luar topik yang ditanyakan. Namun, ada juga kalanya ia mendapat pengalaman yang menyenangkan. Obrolannya dengan orang biasa, Mbah Legiyem (Petani di Gunung Kidul), yang kisah kemandirian dan kedaulatannya sangat kuat dan inspiratif. Ia ingin lebih banyak bisa mengangkat kisah orang-orang biasa seperti Mbah Legiyem ini dengan cerita-cerita hebatnya. Cerita di balik keberhasilan Putcast Mojok ini dapat disaksikan di sini: https://youtu.be/fsO7lvu5GA4.

Sesi terakhir diisi dengan praktik podcast. Pada kesempatan pertama, Mbak Anggi dari Wonderhome Library dan Ibu Herlina dari TBM Al-Aman berbincang tentang topik keluarga dengan segala lika-likunya. Giliran berikutnya, Mas Uta Ahmad Shofyan dan Mas Fajar dari TBM Suryowinoto berbincang tentang masalah-masalah sosial. Terakhir, Mas Eling dari UMY dan Mas Saipul dari Madrasah Digital membahas peradaban Islam.  

“Read Aloud di Wonderhome Library: Menghidupkan Buku, Menerbangkan Imaginasi, Mencetak Generasi Inovatif”

Buku di era digital seringkali hanya tertumpuk di rak-rak ruang tamu atau perpustakaan tanpa disentuh calon pembacanya. Ia berdebu, dimakan rayap, lalu rusak sebelum kemudian terkubur bersama sampah lain atau dibakar jadi abu. Sial betul Nasib buku-buku yang seperti itu. Padahal, buku adalah jendela dunia. Ia membuka cakrawala pengetahuan, menajamkan daya pikir, dan membawa pembacanya untuk menembus ruang dan waktu. Ia membawa manusia terhubung dengan masa lalu dan masa depan, juga menyambungkannya dengan warga dunia dari berbagai negara.

Untuk itulah, program “Read Aloud” Wonderhome Library yang diselenggarakan pada Minggu, 13, Oktober 2024 itu bertujuan untuk menghidupkan buku dan para pembacanya. Buku kembali menjadi pondasi dan panduan generasi masa depan untuk membuka jendela dunia dengan kekuatan daya pikir, pengetahuan, dan imaginasi. Dengan begitu, mereka tidak lagi hanya menjadi konsumen dan penonton kemajuan, tapi juga produsen dan kontibutor penting peradaban masa depan.

Menghadirkan Mbak Heni Wardatur Rohmah dan Pak Nuradi Indrawijaya dari TBM Mata Aksara, kegiatan Read Aloud kali ini dimulai dengan membaca buku yang berjudul “Terbanglah Tinggi!”. Pak Nuradi (biasa dipanggil Pak Adi) dan Mbak Heni memulainya dengan ice breaking. Anak-anak diajak untuk menebak makhluk dan kendaraan apa saja yang bisa terbang. Anak-anak secara antusias menjawab, dari burung, capung, kupu-kupu, hingga pesawat terbang, helikopter, dan roket. Setelah itu, buku dibacakan secara interaktif dan menarik. Kisang tentang seorang anak yang bernama Chandu. Ia terbang ke awan dan bertemu dengan berbagai hal yang menakjubkan di sana, dari pesawat burung, pesawat terbang, bahkan bintang-bintang yang indah. Kisah ini membuat imajinasi anak-anak terbang tinggi ke angkasa.

Sebelum kemudian, ibu Chandu membangunkannya. Ia baru tersadar. Ternyata, pengalaman luar biasa tadi terjadi di alam mimpi.   Namun, itu saja sudah membuatnya merasa bahagia. Apalagi jika semua itu terjadi di alam nyata. Dan, itu bukanlah hal yang mustahil dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Setelah buku dibaca, Mbak Heni dan Pak Adi mengajak anak-anak untuk membuat pesawat dari kertas yang sudah disiapkan. Mereka yang sudah bisa membantu dan membimbing anak-anak yang belum bisa membuatnya. Begitu semua pesawat kertas jadi, semua diajak untuk menerbangkannya bersama-sama.

Pak Adi dan Mbak Heni bersama Volunter Wonderhome Library, Bunda Melani dan Pak Syifa Amin

Tidak hanya itu, setelah pengalaman membuat dan menerbangkan pesawat, anak-anak diajak untuk menerbangkan roket. Dengan alat sederhana, yakni pompa yang sudah dimodifikasi, pipa paralon, dan botol minuman mineral yang diisi air, anak-anak bersemangat untuk menerbangkan roket yang terbuat dari botol air mineral itu. Satu anak bertugas memompa, satu lagi memasukkan botor air mineral yang telah diisi air ke dalam paralon. Begitu paralon tersebut dipompa secara pelahan, botol air mineral yang diisi air itu terdorong oleh tekanan yang dihasilkan dari pompa. Ia terbak bak roket yang hendak menembus ruang angkasa.

Buku “Terbanglah Tinggi” menjadi hidup. Ia tidak hanya dibaca, tapi juga menerbangkan imajinasi, dan menginspirasi anak-anak untuk berkreasi dan berinovasi. Kreasi dan inovasi mereka adalah pondasi bagi masa depan yang lebih cerah. Semoga. msaw.

Seminar Parenting Wonderhome Library: “Orang Tua Pem(b)elajar untuk Anak Gemar Belajar”

Cerahnya cuaca pagi di Wonderhome Library menyambut peserta yang antusias datang di acara Seminar Parenting.yang diselenggarakan pada MInggu, 06 Oktober 2024. Acara ini merupakan salah satu dari rangkaian acara Festival Literasi Wonderhome Library. Dimulai dengan kegiatan Perpustakaan Keliling pada tanggal 4 Oktober, Diskusi Penguatan Volunteer Literasi pada tanggal 05 Oktober, lalu dilanjutkan dengan Seminar Parenting di tanggal 06 Oktober. Dan, masih  banyak lagi kegiatan bertemakan literasi di bulan Oktober ini.

Pada acara Seminar Parenting yang bertema tentang Orang Tua Pembelajar ini, dua pembicara dihadirkan untuk berbagi pencerahan dengan sekitar 50-an peserta. Yang pertama adalah Mbak Dhea Hajaru M. S.Pd. dari Rumah Baca Pena dan Bunda Siti Melani dari Wonderhome Library.

Acara dibuka oleh pembawa acara, Mbak Intan (Mahasiswa UNY, volunteer Wonderhome). Tilawah  al-Qur’an dibawakan oleh Mbak Yundev (Mahasiswa UNY, volunteer Wonderhome). Lalu,  disusul dengan sambutan oleh Ketua Pelaksana, Pak Syifa Amin (Direktur Wonderhome Library) dan Bu Ika Annisa (Perpustakaan Kelurahan Ambarketawang, Gamping, Sleman).

Setelah itu, acara utama dimulai. Dipandu oleh Mbak Anggi Friana (Mahasiswa UTY, volunteer Wonderhome) sebagai moderator. Peserta diminta untuk mengerjakan Pre-Test tentang parenting sambil menunggu persiapan narasumber untuk mempresentasikan materinya.  

Pemateri pertama, Mbak Dhea, mengundang peserta untuk berefleksi tentang siapa orang tua itu sesungguhnya, dan apa tujuan hidupnya. Ketika hal itu sudah dipahami dengan baik, maka orang tua akan dapat memainkan perannya sebagai pemelajar dan pembelajar yang efektif. Tantangan dunia yang makin kompleks serta anak-anak yang rawan dengan kerapuhan mental, peran orang tua menjadi sangat penting. Orang tua dituntut tidak hanya menjadi pembelajar (orang yang mengajari) yang baik, tapi juga menjadi pemelajar (orang yang belajar) yang terus-menerus. Mbak Dhea Hajaru menekankan hal tersebut. Ia berbagi cara dan tips bagaimana menjadi teman belajar anak-anak secara efektif.

Mbak Dhea, Mbak Anggi, dan Bunda Melani

Sementara itu, Bunda Melani dari Wonderhome Library memaparkan tentang fenomena gerenasi Alpha yang memiliki cara, minat, dan gayanya tersendiri dalam belajar. Termasuk dalam hal kegemaran dan kemampuan membaca. Orang tua dituntut untuk terus memperbarui pengetahuan dan kemampuannya dalam mendamping masa tumbuh kembang anak-anak. Dalam proses pendampingan belajar, cara yang menggembirakan dan menyenangkan perlu diterapkan dan dikedepankan. Meski demikian, belajar yang menyenangkan bukan berarti longgar dan memanjakan anak. Apa saja keinginannya dipenuhi. Tetap diperlukan disiplin, ketegasan, dan “kekerasan” komitmen dalam membantu tumbuh kembang anak agar mampu menghadapi tantangan dunia yang kompleks.

“Kalau orang tua lembek dalam mendidik anak, tunggu saja dunia luar akan keras terhadapnya. Tanpa bekal yang cukup, anak akan menjadi korban. Tapi, jika orang tua membekalinya dengan pertahanan mental dan literasi yang baik, ia siap menghadapi segala tantangan dan memberi warna indah bagi dunia.”  Kira-kira begitu salah satu pesan dari adagium yang dikutip oleh Bunda Melani pada acara Seminar Parenting tersebut.

Narasumber dan Peserta Seminar Parenting Wonderhome Library

Acara ini terselenggara atas sponsor dari Bantuan Pemerintah (Banpem) untuk Komunitas Penggerak Literasi 2024 dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kemendikbud. Peserta yang aktif berpartisipasi dalam acara ini dengan bertanya atau menjawab pertanyaan dari narasumber mendapat door prize menarik. Ada yang mendapatkan buku dari Wonderhome Library, dan ada juga yang mendapatkan voucher laundry gratis dari Bunda Hanif. Mudah-mudahan ilmu dan pencerahan yang diperoleh dapat dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga, semuanya menjadi orang tua yang hebat, sebagai pemelajar dan pembelajar, untuk mendampingi tumbuh-kembang anak mengarungi dan menaklukkan dunia dan segala tantangannya. Amin.msaw.

Negara Akhirnya Hadir, Gerakkan Literasi dari Seluruh Pelosok Negeri !!!

Dari Aceh hingga Papua, para pegiat literasi berkumpul di Hotel Sultan Jakarta, dari 27-30 Agustus 2024. Mereka terpilih menjadi calon penerima bantuan (banpem) pemerintah untuk pengembangan literasi masyarakat tahun 2024 setelah melalui seleksi ketat. Dari 1352 komunitas literasi yang mendaftar, 846 di antaranya yang mengupload dokumen administrasi. Dari jumlah tersebut, hanya 340 yang berhasil lolos seleksi dan substansi proposal untuk menerima bantuan pemerintah melalui Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kemendibudristek RI. Program ini baru pertama kali dilakukan oleh pemerintah sebagai bukti kehadiran negara untuk meningkatkan kemampuan literasi masyarakat.

Tentu saja, program ini merupakan sebuah booster, pemompa semangat, bagi komunitas literasi yang selama ini bergerilya untuk literasi secara sunyi. Mereka selama ini mendedikasikan waktu, tenaga, bahkan hartanya secara mandiri untuk mendampingi masyarakat sekitar dalam belajar. Kadang aktivitas mereka dicurigai, dicibir, bahkan dihalang-halangi dengan berbagai motif dan cara. Tak dipungkiri, kadang mereka juga goyah dan terpuruk. Tapi, waktu kemudian menjadi saksi, bahwa stamina dan perjuangan mereka untuk literasi tidak mudah dipatahkan. Semakin kuat tantangan, semakin matang mental dan kiprah mereka untuk masyarakat sekitarnya. Bantuan Pemerintah (Banpem) oleh Pusbin Bahasa dan Sastra tahun 2024 ini memang bukan segalanya. Namun, ia menyuntikkan tambahan gairah literasi di tanah air.

Bapak Mathius Lu Ndawa, misalnya. Didorong oleh kenyataan masyarakat sekitarnya yang kesulitan membaca saat masuk Sekolah Dasar, ia mendirikan PAUD. Ternyata anak-anak usia SMP pun juga tidak sedikit yang mengalami kesulitan belajar dengan tumpukan PR dan tugas-tugas sekolah. Ia beserta istrinya akhirnya membuka bimbingan belajar gratis untuk di sekitarnya di medio 2014.

Bapak Mathius Lu Ndawa, tengah.

Dari situlah, tercetus ide untuk memfasilitasi anak-anak di sekitar wilahnya di Sumba untuk belajar dengan sebuah taman baca. Ia mendirikan yaman baca yang diberi nama “Taman Baca Kapadokia Uma Manggana”. Uma Manggana artinya rumah hikmah, yang menebar manfaat dan kebijaksanaan ke sekitarnya.

Pertemuan dengan para pegiat dan penggerak literasi seluruh Indonesia seperti momen ini mendongkrak semangat orang seperti Pak Mathius dari Kapadokia Uma Manggarna. Termasuk saya, Syifa, dari Wonderhome Library. Saya bersama para pegiat literasi dari Yogyakarta, yang sebagian besar tergabung dalam Forum Taman Bacaan Masyarakat (Forum TBM,) menyambut kehadiran negara di bidang literasi ini.

Penggerak Literasi Masyarakat dari Yogyakarta

Mudah-mudahan kehadiran pemerintah tidak berhenti sampai di sini. Terus berlanjut dan bertambah baik lagi. Teman-teman penggerak literasi terus bergerak dan berkarya, dengan atau tanpa bantuan, karena ini adalah panggilan hati untuk meraih ridho Ilahi (msaw).

Peningkatan Literasi Budaya dan Kapasitas Organisasi Migran Kerinci di Malaysia: Pengabdian Kepada Masyarakat UMY di Hulu Langat, Selangor, Malaysia

Migran dari Kerinci, Jambi, Indonesia ke Malaysia sudah berlangsung sejak awal abad ke-20 di masa penjajahan Belanda. Mereka menempati dan hidup di kawasan-kawasan yang strategis untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik, di antaranya di daerah Pantai Dalam, Sungai Buluh, Hulu Langat, Bukit Angkasa, dan Kampung Kerinci (Bangsar South), yang berada di kawasan Kuala Lumpur Malaysia. Salah satu tokohnya bahkan dianggap sebagai pionir dan simbol eksistensi masyarakat Melayu di Kuala Lumpur sehingga namanya diabadikan menjadi nama masjid dan stasiun kereta api, yakni Abdullah Hukum. Hanya saja, generasi migran Kerinci yang baru di abad ke-21 ini mempunyai dua masalah utama. Satu, generasi Kerinci yang lahir di Malaysia mengalami kelunturan identitas budaya sebagai orang Kerinci. Kedua, diaspora Kerinci yang tersebar berbagai wilayah di Malaysia belum mampu memaksimalkan perkumpulan yang ada untuk memperjuangkan kepentingan masyarakat Kerinci di tanah rantau. Dua masalah tersebut jika tidak diatasi dengan baik akan melanggengkan rendahnya literasi budaya Kerinci dan banyaknya masyarakat Kerinci yang masih bekerja di sektor-sektor pekerjaan menengah ke bawah, seperti sopir taksi, cleaning service, pedagang kaki lima, pekerja di perkebunan, pertanian, dan jasa konstruksi.

Pada Ahad, 09 Juni 2024 lalu, Mohammad Syifa Amin Widigdo dan Mahli Zainuddin dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Indonesia, melakukan kegiatan pengabdian kepada masyarakat (PKM) di Hulu Langat, Selangor, Malaysia. Tujuannya adalah untuk membantu masyarakat Kerinci di Malaysia agar tidak mengalami krisis identitas budaya dan memperkuat kapasitas perkumpulan orang Kerinci di Malaysia agar mampu membela kepentingan dan aspirasi masyarakat Kerinci di tanah Rantau. Dengan menggandeng mitra organisasi masyarakat Kerinci di Malaysia, yakni HKKN (Himpunan Keluarga Kerinci Nasional), dan koloborasi dengan dosen Universiti Malaya, Malaysia, kegiatan pengabdian ini dihadiri oleh masyarakat Kerinci dari berbagai wilayah di Malaysia.

Pada sesi pertama, Dr. Mahli Zainuddin membedah buku yang ditulisnya sendiri yang berjudul “Kerinci: Cerita tentang Tanah Kelahiran.” Ia berbagi cerita tentang tanah Kerinci di Jambi, dari budaya, cerita lokal, situs-situs sejarah Kerinci, hingga silsilah kekeluargaan. Diharapkan, masyarakat Kerinci di Malaysia dapat memahami identitas kebudayaannya dan terhubung dengan tanah leluhurnya. Selengkapnya, bedah buku ini dapat dilihat di channel Youtube ini: https://www.youtube.com/watch?v=5ZTYJRyG13Q

Pada sesi berikutnya, Dr. Awang Azman Awang Pawi (Direktur Pusat Pengkajian Kecemerlangan Melayu, Universiti Malaya) memberi penjelasan tentang Sumbangan Orang Kerinci Bagi Pembangunan Malaysia. Selama ini, sumbangan orang Kerinci belum banyak dicatat dalam sejarah  dibanding etnis-etnis Indonesia lain di Malaysia, seperti orang Jawa. Padahal, dalam realitanya, sumbangan mereka sangat besar sehingga nama “Kerinci” diabadikan sebagai nama kampung, stasiun kereta api, atau nama masjid. Oleh sebab itu, penelitian lebih lanjut terkait kontribusi masyarakat Kerinci bagi pembangunan di Malaysia diperlukan. Selengkapnya, ceramah ini dapat dilihat di sini: https://www.youtube.com/watch?v=-LiKEUMgPlQ

Pada sesi terakhir, Sadri Rifai (Sekretaris Himpunan Keluarga Kerinci Nasional Malaysia) dan Najihah (Warga Malaysia keturunan Kerinci) menyambut baik kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dan melanjutkannya ke kegiatan penelitian tentang masyarakat Kerinci di Malaysia. Sebagai Sekretaris HKKN, Sadri Rifai bekerja sama dengan Menteri Perpaduan untuk mempromosikan tentang etnisitas dan budaya Kerinci di Malaysia. Ia juga menepis berbagai stereotype yang berkenaan dengan Kerinci, seperti orang Kerinci sebagai manusia harimau, dan memberi penjelasan bagaimana sesungguhnya orang Kerinci itu. Sementara itu, Najihah yang merupakan anak keturunan Kerinci dan lahir di Malaysia berbagi cerita tentang bagaimana ikatan emosional dan kekeluargaan yang terjalin antara orang Kerinci yang lahir di Malaysia dan orang-orang Kerinci di tanah asal. Ia juga bercerita tentang kendala-kendala “budaya dan bahasa” yang dialaminya. Sambutan keduanya dapat disimak di sini: https://www.youtube.com/watch?v=04Mw_JN4g78

Di akhir acara, kegiatan ini ditutup dengan foto bersama. Masyarakat Kerinci di Malaysia, mitra pengabdian (HKKN Malaysia, Sadri Rifai), perwakilan dan Universiti Malaya (Awang Azman Awang Pawi dan Nurul Asmaa Akmal), dan UMY (Mohammad Syifa Amin Widigdo dan Mahli Zainuddin) masuk dalam frame foto ini dan sekaligus menutup acara yang penting dan mengesankan ini.

SATU LANGKAH SAJA- Setiap harinya untuk kembali berdaya

Untuk kamu yang sedang terpuruk dalam kegagalan, yang tenggelam dalam kepedihan, yang lemah kehilangan tumpuan, yang tidak berteman..

Untuk semua yang sedang berada dalam mode bertahan.. Lanjut tak mampu, mundur bukan pilihan..

COBA BERIKAN DIRIMU “SATU LANGKAH SAJA” SETIAP HARINYA

1 LANGKAH UNTUK BERGESER DARI TITIKMU SAAT INI

Tidak ada hal baru yang dapat kita tatap saat menetap di satu titik gelap. Berlama-lama menyekap diri hanya akan berbuah pengap.

Coba geser atensimu sedikit. dari kasur yang siap menelanmu, ke dapur yang penuh jamuan buatan ibu, atau teras rumah dengan tontonan lalu lalang orang bersenyum ramah.

1 LANGKAH UNTUK MELEPASKAN SEJENAK SEMUA YANG BERKERUMUN DALAM BENAK

Tuliskan gelisahmu

Gambarkan perihmu

Sampaikan ketakutanmu

Pada buku catatan, sosok ternyaman, pada Tuhan.

Kemudian biarkan isimu menjadi kosong, agar radarmu lebih mudah mendeteksi segala yang bukan masalah ataupun keluh kesah.

1 LANGKAH UNTUK BERINTERAKSI DENGAN SUMBER KEBAHAGIAANMU

“Berinteraksi? bagaimana bisa? saya telah kehilangan sumber kebahagiaan saya..”

Maka coba panggil kembali memori di mana tertawa adalah hal yang paling mudah untuk dilakukan, lalu sadari apa yang melatarbelakanginya.

Mungkin saja datangnya dari bincang santai tanpa arah dengan seorang kawan, atau dari keindahan fajar yang dengan lembut menyapa dari balik jendela kamar.

Setelah menyadari, coba jalin interaksi kembali..

1 LANGKAH UNTUK MEMBERDAYAKAN KEBAIKAN DALAM DIRI

Melakukan kebaikan pada seseorang berarti memberi kesempatan pada diri sendiri untuk terpapar kebahagiaan yang (seringnya) kita pikir milik orang lain.

Kebaikan-kebaikan kecil ini kembali mengingatkan bahwa kebahagiaan itu tidak bertuan. la tidak berkepemilikan. Namun akan dengan senang hati singgah pada jiwa yang mengizinkan.

Ditulis oleh: Dian Wahyu Pratiwi