UMY Gelar FGD dan Workshop AI untuk Pengembangan Wacana Islam di Dunia Digital

Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) menggelar Focus Group Discussion (FGD) dan Workshop Pengabdian Masyarakat bertajuk “Optimalisasi Artificial Intelligence untuk Pengembangan Wacana Islam di Dunia Digital” di Wonderhome Library pada Kamis, 12 Maret 2026. Kegiatan ini menghadirkan akademisi, praktisi konten, dan peserta dari masyarakat umum untuk membahas pemanfaatan kecerdasan buatan dalam pengembangan konten keislaman di ruang digital. UMY Gelar FGD dan Workshop AI untuk Pengembangan Wacana Islam di Dunia Digital.

Berdasarkan susunan acara, kegiatan dimulai pukul 13.00 WIB dengan sesi FGD bertema pemetaan wacana keislaman di dunia digital, khususnya YouTube, serta pengantar singkat mengenai alur produksi konten. Sesi ini dipandu oleh Mohammad Syifa Amin Widigdo dan Rhafidilla Vebrynda. Selanjutnya, pukul 14.00 sampai 15.00 WIB, peserta mengikuti materi tentang manfaat dan risiko AI dalam produksi maupun konsumsi konten keagamaan yang disampaikan oleh Chayadi Oktomy, Ph.D. Setelah jeda istirahat dan salat, acara dilanjutkan dengan workshop produksi konten berbasis AI pukul 15.00 sampai 17.00 WIB bersama Ihsanuddin, lalu ditutup pada pukul 17.00 WIB.

Dalam sesi FGD, pembahasan berfokus pada lanskap wacana Islam di platform digital dan peluang pengembangannya. Mohammad Syifa Amin Widigdo menyoroti bahwa wacana Islam di YouTube memiliki pasar yang luas, tetapi kanal yang berorientasi pada public scholarship atau kajian Islam yang ilmiah dan mendalam masih relatif kecil dibandingkan konten hiburan. Diskusi juga menekankan pentingnya penyesuaian bahasa, format, dan strategi penyajian agar pesan keislaman yang substantif dapat menjangkau audiens yang lebih luas secara efektif.

Arah pembahasan tersebut sejalan dengan bahan presentasi FGD yang memetakan ekosistem konten keislaman di YouTube Indonesia. Dalam materi itu dijelaskan bahwa ruang konten Islam digital saat ini diisi oleh kanal ceramah otoritatif, dakwah pemuda, dialog populer, media institusional, hingga public scholarship. Materi itu juga menyimpulkan bahwa ceramah umum merupakan niche yang sudah padat, sedangkan ruang yang masih relatif terbuka terdapat pada irisan literasi, keluarga, public scholarship, dan etika digital berbasis AI.

Pada sesi kedua, Chayadi Oktomy, Ph.D. memaparkan bahwa AI telah digunakan dalam bidang akademik, hiburan, dan bisnis. Namun, ia mengingatkan bahwa penggunaan AI yang tidak tepat dapat memunculkan disinformasi keagamaan, bias konten, dan pelanggaran privasi. Peserta karena itu didorong untuk tidak hanya memanfaatkan AI secara teknis, tetapi juga memiliki literasi digital yang kritis dan peka terhadap batas etis penggunaan teknologi tersebut. Materi presentasi juga menekankan prinsip trust but verify, kewaspadaan terhadap deepfake, penggunaan autentikasi dua faktor, dan penguatan literasi digital AI.

Sesi workshop pada sore hari diarahkan pada praktik langsung produksi konten berbasis AI. Dalam dokumen kegiatan disebutkan bahwa peserta berlatih menghasilkan konten keagamaan yang informatif, akurat, dan relevan dengan memanfaatkan perangkat AI. Peserta diminta membuat video animasi berbasis AI, dimulai dari pembuatan gambar menggunakan Gemini AI, kemudian mengubahnya menjadi video dan menambahkan audio menggunakan Grok AI.

Materi alur produksi yang digunakan dalam workshop menunjukkan bahwa pembuatan konten berbasis AI tetap mengikuti tahapan pra-produksi, produksi, dan pasca-produksi. Pada tahap awal, penentuan ide dan penulisan naskah tetap menjadi fondasi. Pada tahap produksi, AI digunakan untuk membantu membuat gambar atau footage. Sementara pada tahap akhir, proses penyuntingan, pemasukan narasi, dan peninjauan ulang tetap menjadi bagian penting agar hasil konten sesuai dengan tujuan komunikasi.

Melalui kegiatan ini, UMY menegaskan komitmennya untuk menjembatani dunia akademik dengan kebutuhan masyarakat Muslim di era digital. Kegiatan pengabdian masyarakat ini tidak hanya menjadi forum diskusi, tetapi juga sarana pelatihan agar peserta mampu menghasilkan dan mengkurasi konten keislaman yang berkualitas, akurat, dan bertanggung jawab di ruang digital (aisyahamini).

Leave a comment