
Dari Aceh hingga Papua, para pegiat literasi berkumpul di Hotel Sultan Jakarta, dari 27-30 Agustus 2024. Mereka terpilih menjadi calon penerima bantuan (banpem) pemerintah untuk pengembangan literasi masyarakat tahun 2024 setelah melalui seleksi ketat. Dari 1352 komunitas literasi yang mendaftar, 846 di antaranya yang mengupload dokumen administrasi. Dari jumlah tersebut, hanya 340 yang berhasil lolos seleksi dan substansi proposal untuk menerima bantuan pemerintah melalui Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kemendibudristek RI. Program ini baru pertama kali dilakukan oleh pemerintah sebagai bukti kehadiran negara untuk meningkatkan kemampuan literasi masyarakat.
Tentu saja, program ini merupakan sebuah booster, pemompa semangat, bagi komunitas literasi yang selama ini bergerilya untuk literasi secara sunyi. Mereka selama ini mendedikasikan waktu, tenaga, bahkan hartanya secara mandiri untuk mendampingi masyarakat sekitar dalam belajar. Kadang aktivitas mereka dicurigai, dicibir, bahkan dihalang-halangi dengan berbagai motif dan cara. Tak dipungkiri, kadang mereka juga goyah dan terpuruk. Tapi, waktu kemudian menjadi saksi, bahwa stamina dan perjuangan mereka untuk literasi tidak mudah dipatahkan. Semakin kuat tantangan, semakin matang mental dan kiprah mereka untuk masyarakat sekitarnya. Bantuan Pemerintah (Banpem) oleh Pusbin Bahasa dan Sastra tahun 2024 ini memang bukan segalanya. Namun, ia menyuntikkan tambahan gairah literasi di tanah air.
Bapak Mathius Lu Ndawa, misalnya. Didorong oleh kenyataan masyarakat sekitarnya yang kesulitan membaca saat masuk Sekolah Dasar, ia mendirikan PAUD. Ternyata anak-anak usia SMP pun juga tidak sedikit yang mengalami kesulitan belajar dengan tumpukan PR dan tugas-tugas sekolah. Ia beserta istrinya akhirnya membuka bimbingan belajar gratis untuk di sekitarnya di medio 2014.

Bapak Mathius Lu Ndawa, tengah.
Dari situlah, tercetus ide untuk memfasilitasi anak-anak di sekitar wilahnya di Sumba untuk belajar dengan sebuah taman baca. Ia mendirikan yaman baca yang diberi nama “Taman Baca Kapadokia Uma Manggana”. Uma Manggana artinya rumah hikmah, yang menebar manfaat dan kebijaksanaan ke sekitarnya.
Pertemuan dengan para pegiat dan penggerak literasi seluruh Indonesia seperti momen ini mendongkrak semangat orang seperti Pak Mathius dari Kapadokia Uma Manggarna. Termasuk saya, Syifa, dari Wonderhome Library. Saya bersama para pegiat literasi dari Yogyakarta, yang sebagian besar tergabung dalam Forum Taman Bacaan Masyarakat (Forum TBM,) menyambut kehadiran negara di bidang literasi ini.

Penggerak Literasi Masyarakat dari Yogyakarta
Mudah-mudahan kehadiran pemerintah tidak berhenti sampai di sini. Terus berlanjut dan bertambah baik lagi. Teman-teman penggerak literasi terus bergerak dan berkarya, dengan atau tanpa bantuan, karena ini adalah panggilan hati untuk meraih ridho Ilahi (msaw).