Migran dari Kerinci, Jambi, Indonesia ke Malaysia sudah berlangsung sejak awal abad ke-20 di masa penjajahan Belanda. Mereka menempati dan hidup di kawasan-kawasan yang strategis untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik, di antaranya di daerah Pantai Dalam, Sungai Buluh, Hulu Langat, Bukit Angkasa, dan Kampung Kerinci (Bangsar South), yang berada di kawasan Kuala Lumpur Malaysia. Salah satu tokohnya bahkan dianggap sebagai pionir dan simbol eksistensi masyarakat Melayu di Kuala Lumpur sehingga namanya diabadikan menjadi nama masjid dan stasiun kereta api, yakni Abdullah Hukum. Hanya saja, generasi migran Kerinci yang baru di abad ke-21 ini mempunyai dua masalah utama. Satu, generasi Kerinci yang lahir di Malaysia mengalami kelunturan identitas budaya sebagai orang Kerinci. Kedua, diaspora Kerinci yang tersebar berbagai wilayah di Malaysia belum mampu memaksimalkan perkumpulan yang ada untuk memperjuangkan kepentingan masyarakat Kerinci di tanah rantau. Dua masalah tersebut jika tidak diatasi dengan baik akan melanggengkan rendahnya literasi budaya Kerinci dan banyaknya masyarakat Kerinci yang masih bekerja di sektor-sektor pekerjaan menengah ke bawah, seperti sopir taksi, cleaning service, pedagang kaki lima, pekerja di perkebunan, pertanian, dan jasa konstruksi.
Pada Ahad, 09 Juni 2024 lalu, Mohammad Syifa Amin Widigdo dan Mahli Zainuddin dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Indonesia, melakukan kegiatan pengabdian kepada masyarakat (PKM) di Hulu Langat, Selangor, Malaysia. Tujuannya adalah untuk membantu masyarakat Kerinci di Malaysia agar tidak mengalami krisis identitas budaya dan memperkuat kapasitas perkumpulan orang Kerinci di Malaysia agar mampu membela kepentingan dan aspirasi masyarakat Kerinci di tanah Rantau. Dengan menggandeng mitra organisasi masyarakat Kerinci di Malaysia, yakni HKKN (Himpunan Keluarga Kerinci Nasional), dan koloborasi dengan dosen Universiti Malaya, Malaysia, kegiatan pengabdian ini dihadiri oleh masyarakat Kerinci dari berbagai wilayah di Malaysia.
Pada sesi pertama, Dr. Mahli Zainuddin membedah buku yang ditulisnya sendiri yang berjudul “Kerinci: Cerita tentang Tanah Kelahiran.” Ia berbagi cerita tentang tanah Kerinci di Jambi, dari budaya, cerita lokal, situs-situs sejarah Kerinci, hingga silsilah kekeluargaan. Diharapkan, masyarakat Kerinci di Malaysia dapat memahami identitas kebudayaannya dan terhubung dengan tanah leluhurnya. Selengkapnya, bedah buku ini dapat dilihat di channel Youtube ini: https://www.youtube.com/watch?v=5ZTYJRyG13Q
Pada sesi berikutnya, Dr. Awang Azman Awang Pawi (Direktur Pusat Pengkajian Kecemerlangan Melayu, Universiti Malaya) memberi penjelasan tentang Sumbangan Orang Kerinci Bagi Pembangunan Malaysia. Selama ini, sumbangan orang Kerinci belum banyak dicatat dalam sejarah dibanding etnis-etnis Indonesia lain di Malaysia, seperti orang Jawa. Padahal, dalam realitanya, sumbangan mereka sangat besar sehingga nama “Kerinci” diabadikan sebagai nama kampung, stasiun kereta api, atau nama masjid. Oleh sebab itu, penelitian lebih lanjut terkait kontribusi masyarakat Kerinci bagi pembangunan di Malaysia diperlukan. Selengkapnya, ceramah ini dapat dilihat di sini: https://www.youtube.com/watch?v=-LiKEUMgPlQ
Pada sesi terakhir, Sadri Rifai (Sekretaris Himpunan Keluarga Kerinci Nasional Malaysia) dan Najihah (Warga Malaysia keturunan Kerinci) menyambut baik kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dan melanjutkannya ke kegiatan penelitian tentang masyarakat Kerinci di Malaysia. Sebagai Sekretaris HKKN, Sadri Rifai bekerja sama dengan Menteri Perpaduan untuk mempromosikan tentang etnisitas dan budaya Kerinci di Malaysia. Ia juga menepis berbagai stereotype yang berkenaan dengan Kerinci, seperti orang Kerinci sebagai manusia harimau, dan memberi penjelasan bagaimana sesungguhnya orang Kerinci itu. Sementara itu, Najihah yang merupakan anak keturunan Kerinci dan lahir di Malaysia berbagi cerita tentang bagaimana ikatan emosional dan kekeluargaan yang terjalin antara orang Kerinci yang lahir di Malaysia dan orang-orang Kerinci di tanah asal. Ia juga bercerita tentang kendala-kendala “budaya dan bahasa” yang dialaminya. Sambutan keduanya dapat disimak di sini: https://www.youtube.com/watch?v=04Mw_JN4g78

Di akhir acara, kegiatan ini ditutup dengan foto bersama. Masyarakat Kerinci di Malaysia, mitra pengabdian (HKKN Malaysia, Sadri Rifai), perwakilan dan Universiti Malaya (Awang Azman Awang Pawi dan Nurul Asmaa Akmal), dan UMY (Mohammad Syifa Amin Widigdo dan Mahli Zainuddin) masuk dalam frame foto ini dan sekaligus menutup acara yang penting dan mengesankan ini.